This is article on Serambi news that interviewed Mr. Tania WidjayaKawasan Peunayong Diharapkan Bangkit Kembali[ rubrik: Serambi topik: Bisnis ]
BANDA ACEH - Meski sempat porak poranda diterjang air bah, beberapa pemilik tempat usaha pada daerah-daerah yang terkena bencana di Banda Aceh sudah mulai dibersihkan dan bersiap-siap kembali menjalankan usahanya.
Pusat perdagangan nampak bergeser ke daerah-daerah pinggiran Kota Banda Aceh seperti di Ulee Kareng dan Lambaro.
Sementara di tengah kota yang dulunya menjadi daerah pusat bisnis, seperti Pasar Aceh dan Peunayong, terlihat ada usaha pembersihan tempat-tempat usaha seperti di pertokoan. Tekad untuk kembali menjalankan usaha bisa dilihat di Hotel Medan yang berlokasi di kawasan Peunayon. Sejumlah pekerja sejak dua pekan terakhir terlihat terus membereskan sisa-sisa sampah yang menumpuk di dalam dan luar bangunan.
Proses membersihkan hotel ini menurut pemiliknya, Tania Widjaya, diperkirakan membutuhkan waktu dua bulan. Bagian paling sulit dari proses pembersihan adalah mengeluarkan lumpur hitam pekat yang masuk ke seluruh bagian lantai pertama hotel. Di bagian muka hotel juga masih dijumpai sebuah kapal penangkap ikan yang terbawa arus hingga ke hotel ini.
“Gara-gara kapal itu hotel kami tambah terkenal. Banyak wartawan asing yang bilang sebaiknya kapal itu dijadikan monumen. Sepertinya pemilik kapal sudah mengambil mesin dan alat-alat dari kapal itu. Tapi saya belum tahu bagaimana nantinya soal kapal ini,” kata Tania pada Serambi, Senin (17/1) kemarin.
Kerusakan terparah Hotel Medan adalah pada lantai dasar. Apalagi di lantai dasar terdapat berbagai fasilitas seperti boks saluran telepon, perangkat distribusi saluran televisi, generator listrik, dapur dan puluhan peralatan elektronik seperti televisi.
Tania memperkirakan kerusakan yang terjadi di lantai pertama menyebabkan kerugian senilai Rp 600 juta. Ia menunjuk piranti PABX yang memungkinkan hubungan saluran telepon langsung dari setiap kamar yang ada di Hotel Medan. Setiap saluran, menurut Tania, membutuhkan biaya sekitar Rp 2 juta.
“Yah, sebagai pelaku usaha kami berharap hotel ini dapat berjalan lagi. Yang kami butuhkan saat ini adalah pemberian kredit pinjaman dengan bunga ringan,” kata Tania.
Tania sempat menunjukkan bagian dapur dan ruang genset yang sempat terendam air berlumpur. Kendala lain yang dihadapi Hotel Medan adalah tersumbatnya sistem pembuangan air akibat saluran air di belakang hotel tertimbun tanah. Dari belakang hotel bisa dilihat saluran yang runtuh dan air sungai yang meluap hingga hampir mencapai bagian atas talud pembatas. Padahal, kata Tania, sebelum bencana dari talud ke air ada daratan yang panjangnya sekitar 12 meter. “Tuh, dekat talud masih ada tiga mayat,” kata Tania
Hotel Medan telah berdiri sejak sekitar 30 tahun lalu. Dalam perjalanannya, pengelola hotel menambah bangunan dan berbagai fasilitas hingga akhirnya hotel ini memiliki 70 kamar. Pada tiap kamar terdapat fasilitas kamar mandi, pendingin ruangan, televisi dan lemari pendingin. Dalam kondisi normal hotel ini memiliki tingkat hunian sekitar 80 persen dari keseluruhan kamar yang tersedia.
Tania menyebutkan, bagian hotel yang memerlukan renovasi paling banyak adalah lantai dasar sedangkan lantai di atasnya relatif tidak mengalami kerusakan terlalu berarti. Kondisi bangunan yang masih kokoh mengundang kehadiran sejumlah wartawan dan relawan dari luar negeri yang berminat membuka posko di hotel ini. “Ada relawan dari negeri Cina yang menyatakan berminat membuka semacam posko kesehatan di sini. Tapi kami masih mau beres-beres dulu. Paling tidak dua bulan ke depanlah,” kata Tania.
Menurutnya, salah satu persoalan yang dihadapi untuk memulihkan Hotel Medan adalah suplai listrik dari PLN untuk kawasan ini. Tania berharap, beroperasinya kembali Hotel Medan akan mendorong bangkitnya pertokoan dan berbagai tempat usaha di sekitar hotel ini, termasuk Rex yang lokasinya berhadapan dengan Hotel Medan. (fm2)
http://lambaro.bangkapos.com/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=104&rubrik=1&kategori=1&topik=8